2020, February 20th
Hi
Kita saling menyapa lagi
Padahal kita sering melakukannya berulang kali
Tetapi ada satu hal yang harus kita sadari
Sejauh apapun kita saling pergi
Kita akan kembali
Kembali lagi
Lagi dan lagi bersama disini
Saling merasa sepi dalam menjalankan hari
Saling mencari untuk mendapatkan ekspetasi
Nyatanya kita hanya perlu menyadari dan merenungi
Ada kamu dan aku yang saling mengisi hati
Yang tetap tinggal di segala kondisi
Mengetahui segalanya yang telah terjadi
Selalu bisa mengerti dan dimengerti
Kamu pernah mengatakan semua ini
Ketika aku mulai mencari lagi yang ku ingini
Aku tidak pernah ingin yang kamu katakan itu terjadi
Egoku terus menerus menyelimuti diri
Memilih menyendiri daripada harus menanggapi
Hingga aku menyusulmu yang juga lelah mencari
Lelah membuatku menyerah dan menyadari
Ada kamu yang selalu menanti
Menanti diri ini yang telah lelah berlari
Friday, 27 March 2020
Perpisahan
2020, March 14th
Aku tidak suka dengan sebuah perpisahan
Meskipun itu cara untuk bertemu kebahagiaan
Perpisahan tetaplah sebuah perpisahan
Menyisakan sebuah kenangan dan ku harus terus melanjutkan kehidupan
Ada pertemuan, ada perpisahan
Terdengar klasik tetapi harus ku ucapkan
Agar aku bisa menerima kenyataan
Kenyataan yang menyedihkan maupun membahagiakan
Aku tidak suka dengan sebuah perpisahan
Meskipun itu cara untuk bertemu kebahagiaan
Perpisahan tetaplah sebuah perpisahan
Menyisakan sebuah kenangan dan ku harus terus melanjutkan kehidupan
Ada pertemuan, ada perpisahan
Terdengar klasik tetapi harus ku ucapkan
Agar aku bisa menerima kenyataan
Kenyataan yang menyedihkan maupun membahagiakan
Manusia si Makhluk Bumi
2017, May 3rd
Mengurangi lebih tepatnya, menatap layar datar yang telah membuat yang jauh terasa dekat namun menjauhkan yang dekat.
Ingin rasanya kembali di masa sebelum smartphone/gadget menyerang yang membuat kita hidup di benda itu.
Cobalah keluar ke dunia yang begitu luas ini. Berjemur di pagi hari, terik panas di siang hari, langit yang penuh warna di sore hari, rembulan dan kesunyian malam hari.
Merasakan menjadi makhluk bumi.
Bukan terus hidup di benda buatan makhluk bumi itu sendiri.
Kita hidup di alam yang telah diberikan oleh Tuhan dengan segala isinya ini.
Abadikan semua momen dengan mata, telinga, hidung yang telah dimiliki.
Tidak perlu semua orang tau detail setiap momen yang kita alami, membagikan semuanya ke sosial media yang menjadi kewajiban kaum-kaum masa kini, dibumbui gengsi untuk membuat yang melihatnya iri hati.
Semua orang mengenal hanya melalui sosial media, kenyataanya tidak selalu sama dengan kehidupan nyatanya sebagai manusia yang dijalani.
Mulutmu harimaumu sudah berubah menjadi jarimu harimaumu.
Kurangi waktu (seperlunya) bersama layar datar dihadapnmu.
Jangan penjarakan dirimu.
Mengurangi lebih tepatnya, menatap layar datar yang telah membuat yang jauh terasa dekat namun menjauhkan yang dekat.
Ingin rasanya kembali di masa sebelum smartphone/gadget menyerang yang membuat kita hidup di benda itu.
Cobalah keluar ke dunia yang begitu luas ini. Berjemur di pagi hari, terik panas di siang hari, langit yang penuh warna di sore hari, rembulan dan kesunyian malam hari.
Merasakan menjadi makhluk bumi.
Bukan terus hidup di benda buatan makhluk bumi itu sendiri.
Kita hidup di alam yang telah diberikan oleh Tuhan dengan segala isinya ini.
Abadikan semua momen dengan mata, telinga, hidung yang telah dimiliki.
Tidak perlu semua orang tau detail setiap momen yang kita alami, membagikan semuanya ke sosial media yang menjadi kewajiban kaum-kaum masa kini, dibumbui gengsi untuk membuat yang melihatnya iri hati.
Semua orang mengenal hanya melalui sosial media, kenyataanya tidak selalu sama dengan kehidupan nyatanya sebagai manusia yang dijalani.
Mulutmu harimaumu sudah berubah menjadi jarimu harimaumu.
Kurangi waktu (seperlunya) bersama layar datar dihadapnmu.
Jangan penjarakan dirimu.
Subscribe to:
Posts (Atom)