Saturday, 1 October 2016

Senjaku

Waktu yang paling aku sukai adalah sore hari.
Waktu peralihan siang menuju malam yang gelap, matahari mulai terbenam,
berganti dengan bulan dan langit menjadi gelap.

Mengapa aku suka waktu senja?

Senja penuh kenangan, mulai dari ketenangan menuju malam, kesedihan karna hari yang indah akan berakhir, bahagia akan menuju malam yang indah penuh bintang.
Semua perasaan itu tiap harinya berubah di waktu senja.

Di Sabtu sore ini aku menatap langit indah senja.

Panas yang menerpa kini mulai memudar, indah sekali.
Perasaan bahagia dan sedih menjadi satu, terharu melihat indah langitmu wahai sang pencipta.

Sungguh aku ingin bisa menghentikan waktu.
Bahagiaku karna bisa merasakan senja.
Sedihku karna hari yang indah telah berakhir.
Namun harus aku lewati malam yang gelap untuk kembali menjalani hari.


Tuesday, 22 March 2016

Bukan Kau, Dia, dan Semuanya


Curhatan tersirat.
Kini semuanya pergi, bukan kau!
Tetapi dia, bukan dia yang pernah ada.
Segala perasaan dan semua yang berlalu sudah sirna.
Untuk kau atau dia?
Untuk kau dan dia bahkan semuanya.
Kau yang masih disini dan dia yang sudah pergi dan semuanya yang tetap bertahan.


Bagaikan sebuah ruang dengan tembok dan coretannya yang kini hanya aku sendiri terududuk diam.
Tidak! Aku tidak menyalahkan mereka yang pernah berada di ruang ini dan mencoreti tembok.
Aku juga tidak menyesali segalanya.
Aku tidak membencinya.
Aku tidak sedih juga.
Aku pun tidak merasa bahagia berada disini.
Aku tidak tahu apa yang aku rasa saat berada disini.
Semua telah sirna bukan?
Lalu untuk apa aku berada di sini dengan bodoh dan kini ini bukan ruanganku.


Kini aku sudah tidak di ruang tersebut, aku pergi keluar pada saat itu dan kembali dengan semua yang sudah sirna.
Kau tidak pergi, dia yang pergi dan aku pun pergi.
Kini kau sendiri.
Mungkin bersama mereka juga kah?
Aku kembali seperti dulu, di ruangan sebelah yang juga penuh coretan namun bukan kau, dia ataupun semua yang pernah tinggal.
Ruangan kau, dia, dan semuanya itu sudah aku kunci sepertinya.
Bagaikan malam datang dan kau harus menutup jendela dan pintu rumahmu.
Itu lah bagaimana ruangan itu bisa tertutup.
Namun gelapnya dan sepinya malam membuatku terkadang membuka jendela untuk melihat sang bulan dan bintang-bintang yang indah.
Tapi tak setiap malam kau bisa melihat terangnya bulan dan indahnya bintang-bintang, awan-awan itu terkadang menutupi.
Tenanglah, akan ada saatnya bulan dan bintang-bintang itu hadir dan kini aku hanya ingin membuka jendelaku untuk melihat bulan dan bintang-bintang yang tidak sama sekali tertutup awan sedikit pun.